Iklan

Review Buku Menapak Jejak Desember

Konten [Tampil]

www.mikromediateknologi.com - Kumpulan cerita yang menyentuh selalu membawa pembaca berlabuh. Pada kehidupan yang tak selalu memihak. Pada jejak yang terkadang terasa berat. Juga, pada rindu yang tak ada tepi. Hingga satu persatu hanya bisa terpecah dengan kekuatan doa dan keikhlasan. Baca kisah menarik di bawah ini. 

Rintik Rindu 14 Januari

Ada yang aneh dengan bulan ini. Bulan Januari yang orang katakan sudah masuk musim kemarau, tetapi ternyata hujan terus mengguyur. Bila lupa membawa perlengkapan maka akan seperti aku saat ini. Terjebak hujan di kantor, padahal semuanya sudah pulang. Hari pun telah petang. 

Dari meja kantorku yang terletak di lantai 4 itu terlihat lalu lintas jalan yang lengang, tak seperti biasanya. Seharusnya ini adalah jam padat orang-orang pulang dari kantor. Namun, hujan yang turun cukup deras kuyakini menjadi penyebab utamanya. Banyak yang memilih segera pulang agar tak kebasahan dan kedinginan. 


Bukan untuk Akhir

Pipit tertunduk lesu tak mampu mengangkat kepalanya. Ia hanya mampu bertumpu pada kedua siku kakinya yang dilipat. Matanya menerawang tajam, bungkam seribu bahasa sambil menelan suara yang tak mau dikeluarkan. Ingin rasanya Pipit menghentikan napas sekarang juga. Lunglai, ibarat tubuh tak punya tulang belulang. Sekujur tubuhnya bermandikan keringat dingin. Tak bisa dipercaya olehnya, Ayah yang selama ini selalu memberi semangat dan mendukung sepenuhnya segala pilihan, kini berbalik memutuskan segala asa yang selalu dibangun selama bertahun-tahun.

“Pit, cobalah mengerti. Ikutilah kemauan ayahmu. Sekarang keadaannya sudah lain. Jika kau terus bersitegang dengan ayahmu, maka tak akan ada selesainya.” Ibu memohon dengan suara setengah menangis mencoba memecah kebisuan Pipit.


Gerimis Masih Menyisakan Tawa

Kepulan asap masih tersisa di antara puing reruntuhan bangunan. Orang-orang terus berusaha mencari harta mereka yang mungkin masih bisa terselamatkan. Namun, tak ada yang tersisa sedikit pun. Hanya ada kepedihan melanda setiap hari, hingga isakan tangis menggema meratapi nasib buruk mereka. Tak terkecuali anak-anak yang terus meraung di samping orang tuanya. Pupuslah harapan mereka saat rumah tempat tinggal dilahap si jago merah dalam hitungan menit. Tak bisa menyalahkan siapa-siapa atas musibah yang terjadi. 

Di sudut tenda pengungsian, Jasmine berusaha tegar. Kebakaran semalam telah merenggut nyawa ayah dan ibunya. Kini, dia sebatang kara. Mungkin juga bukan hanya dia, ada banyak orang yang bersedih saat itu. Rambut Jasmine yang kusut itu tergerai dengan muka penuh coreng-moreng. Meski tak ada luka yang tampak, tetap saja luka hatinya sangat dalam. Sebuah trauma seumur hidup; api adalah musuh terbesar manusia.



Penunggu Kali Opak

“Banjir! Banjir!”

Teriakan itu seolah memenuhi kedua liang telinga Meilia, padahal terasa baru sebentar saja dia memejamkan kedua matanya. Meilia terperanjat ketika tersadar ada rasa basah di kasurnya. Kasur yang tak berdipan itu sudah terendam air. Begitu pun ruang tidurnya yang berukuran 3x4 meter itu. Tak berapa lama, listrik pun padam. Bunyi kentungan bertalu-talu, membangunkan warga desa agar segera menyelamatkan diri dan keluarga.

“Mei, Mei! Ayo keluar rumah. Selamatkan dirimu sekarang!” Suara Bapak menggelegar memanggil-manggil Meilia yang masih meraba-raba mencari jalan keluar.



Ada Apa dengan Moss Rose Bu Darmi?

Ada yang mengganjal tiap kali Bu Darmi melihat moss rose miliknya. Pasalnya, sering kali orang mempertanyakan warna bunga yang selalu mekar pukul 09.00 pagi itu. Bagaimana ia akan memberikan jawaban dengan benar? Ia sendiri sangsi dengan warna bunga miliknya itu. 

Kepada suaminya, Bu Darmi mencoba menanyakan hal itu. Namun, sang suami malah tertawa mendengar pertanyaannya. Pria yang sudah menikahinya lebih dari 15 tahun itu selalu menjawab jika hal tersebut tak usah dipusingkan. Begitulah laki-laki dengan jawaban praktisnya. Sejak itu, tak ada harap bagi Bu Darmi untuk mengulang pertanyaan yang sama.



Menapak Jejak Desember

“Makanlah, San. Badanmu sudah kering seperti tanah musim kemarau ini. Kulitmu pun hampir tertembus tulang. Apa kau rela mahkota indahmu ikut berguguran layaknya daun jati yang meranggas?”

Bergetar, tangan kekar itu menyodorkan bubur hangat ke mulutku. Namun, entah apa yang ada dalam kepalaku. Aku bergeming, mulut pun terkunci rapat. Pandanganku mengarah pada jendela di seberang dipan tempatku menghabiskan hari. 



Rumahku Tertelan Pencakar Langit

“Tidak!” Suara Abah menggelegar dalam rumah.

Aku bisa mendengarkan tangis Mak dari dalam kamar. Abah dan Mak bertengkar lagi, meributkan status rumah kami untuk kesekian kali. Melepaskan kepada pengembang gedung atau tetap bertahan pada impitan pencakar langit.

Terkadang, aku ingin memihak pada Mak, tetapi sudah saatnya kami harus mencari tempat yang lapang. Bayangkan saja, hampir tak ada celah untuk masuk ke rumah kami dan sekarang hanya tersisa tiga rumah saja. 




Rasa kehilangan terkadang membuat hati begitu lebur. Namun, terkadang juga kita harus mampu untuk menapak kembali. Walau perih, kenyataannya hidup terus berjalan. Putus asa, kesedihan, dan luka lara tak akan habis dengan meratapinya. 

Berbagai hal kehilangan dikisahkan dalam buku kumpulan cerpen ini. Kehilangan sahabat, cita-cita, anak, bahkan tempat tinggal. Semoga mampu memberikan berbagai pelajaran hidup. Simak semua kisahnya dalam buku ini!


Pemesanan buku bisa ke kontak 0813-1083-2071.

Subscribe Our Newsletter

Related Posts

Buka Komentar
Tutup Komentar

Posting Komentar

klan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel